Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tasamuh

Ragam Cara Memaknai al-Quran

Foto: Pinterest.com Setiap orang memiliki cara tersendiri memaknai al-Quran. Ada yang mengamalkan hanya sebatas ayat-ayat doa keberkatan. Ada pula sebagai doa penyembuhan (rajah). Sebagian lain mengamalkannya sebagai tuntunan berprilaku. Kita ada di bagian yang mana? Setiap umat beragama mempunyai sebuah kitab suci. Isinya tentang ajaran-ajaran atau sebuah teks yang menjadi inspirasi dalam beragama. Islam mempunyai kitab suci al-Quran yang merupakan  Qalam-Allah yang diturunkan oleh-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril. Al-Quran menjadi hujjah bagi Nabi atas pengakuannya sebagai Rasul-Allah dan pembawa ajaran. Al-Quran sebagai undang-undang bagi manusia yang mengikuti petunjukNya, dan menjadi qurbah (jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT) dan membacanya dianggap ibadah. Demikian dijelaskan Abdul Wahhab Khallaf. Al-Quran juga landasan utama untuk setiap istinbath (menarik kesimpulan) hukum yang diijtihadkan oleh para ulama. Dinamika hari ini, al-Quran dimakna...

Melihat Wajah Islam Kita

Foto: Pinterest.com Wajah Islam terus berkembang mengikuti pola pemikiran ummat dan kemajuan peradaban moderen. Perbedaan pendapat harus dipahami sebagai betapa luasnya perkembangan dinamika pemikiran dalam Islam . Jangan terjebak pada sekat timur dan barat. Islam adalah agama universal yang menuntun ummatnya menuju sebuah tujuan tertinggi yakni ridha Yang Maha Kuasa dan surga yang dijanjikan sebagai imbalan atas pengabdiannya. Islam hadir sebagai  rahmatan li al-‘alamiin  yang mempunyai pengertian maha luas semaha-lebar alam ciptaanNya. Bukan hanya bagi manusia, tapi juga untuk setiap makhluk, bahkan yang kita benci sekalipun. Islam menghargai perbedaan sebagaimana tersirat dalam ayat-ayatNya. Manusia yang satu bentuk saja dijadikan Allah dalam berbagai bangsa dan suku agar mudah untuk ditandai/dikenali. Dan tentu saja setiap bangsa atau suku mempunyai peradaban dan budaya masing-masing. Berbeda pendapat adalah  rahmah,  se...

Jangan [Hanya] Islam karena Simbol

Foto: Pinterest.com “Saya tidak lebih takut [takjub] kepada seorang ulama bersorban dari pada mengetahui seorang pemuda dengan rambut panjang, pakai kaos dan tampak kusut tapi hadir di tempat shalat setiap mendengar suara azan”. Begitu kuliah seorang dosen. Di zaman modern, saat tehnologi informasi berkembang pesat, simbol masih mempengaruhi pola pikir dan menjadi ukuran sebagai skala penilaian terhadap sesuatu. Kain sarung, peci dan selempang (ridak; Aceh) adalah adopsi budaya yang pada akhirnya menjadi simbolisasi ketaatan beragama di Aceh. Seorang ustaz atau guru pesantren yang tampil di hadapan publik dengan jeans dan kaos, tanpa peci, serta merta akan dinilai sebagai penistaan terhadap marwah ( bèh-bèh droë).  Tidak perlu seorang ahli  ghibah  (penggunjing) untuk membuat opini tentang tampilannya, tapi hukum sosial langsung berlaku. Begitu kuat simbolisasi memainkan peran dalam tatanan sosial masyarakat meski pada dasarnya hanya sebuah kelaziman sem...

Dewasa [Melihat] Agama

Foto: Pinterest.com Dewasa terjadi ketika berakhirnya masa transisi dari remaja. ‎ Berpikirdewasa adalah ketika mampu menempatkan pekerjaan sebagai pemenuhan kebutuhan layaknya makhluk hidup. ‎Bersikap dewasa adalah ketika mampu menempatkan Agama sebagai patron hidup. Menjadi dewasa ketika mampu memposisikan dunia hanya sebagai sebuah persinggahan. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi pengertian dewasa sebagai; telah mencapai kematangan kelamin, matang (pikiran, pandangan). Hal ini memberi makna bahwa dewasa adalah sebuah fase ketika terjadinya perpaduan antara kematangan secara fisik dan psikologis. Hurlock (1996), memberikan definisi masa-masa dewasa awal sebagai periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial baru. Pada tahapan ini diharapkan dewasa awal telah mampu memainkan peran baru, seperti sebagai seorang suami/istri, orang tua, dan pencari nafkah, munculnya keinginan-keingan baru dan mengembangkan sikap-sikap dan nilai-nilai baru....

Agretifitas Atas Nama Qanun

Foto: Pinterest.com  Kala hukum kurang taji, massa bertindak anarki. Azas praduga tak bersalah terabaikan. Jadilah hukum rimba yang berlaku. Saatnya kita kembali berkaca pada sebenar-benarnya syariat, bukan syariat yang dibenar-benarkan.  Agresivitas merupakan perlakuan kekerasan terhadap orang lain. Filsuf sosial dan psikoanalisis, Eric Fromm dalam buku Akar Kekerasan mengungkapkan, pada diri manusia terdapat dua jenis agresi yang berbeda. Yang pertama desakan untuk melawan atau melarikan diri bila ada ancaman, yang kedua, agresi jahat yang memunculkan kekejaman dan destruktifitas. Agresi ini juga sudah terprogram baik pada manusia maupun hewan secara filogenetik. Erich mengungkapkan, agresi ini selalu mengalami peningkatan pada peradaban manusia dari masa ke masa karena dorongan nafsu.  Kasus pemerkosaan terduga mesum di Langsa menjadi contoh teranyar manusia terbawa agresinya, bagaimana mereka mengabaikan aturan, norma, dan hukum atas nama penggerebekan pela...

Menimbang Asbab Pembangkangan Syariah

Foto; Pinterest.com  Maraknya pelanggaran Syariat Islam di Aceh, telah memunculkan kekhawatiran yang mendalam. Malah, gencarnya pelanggaran tersebut dinilai sebagai reinkarnasi jahiliyah [Opini SI, 13/12/13]. Penilaian itu muncul menyikapi perilaku amoral beberapa remaja yang menyerang Kantor Dinas Syariat Islam (DSI) di Langsa beberapa waktu lalu. Penggunaan kata Jahiliyah dalam tulisan itu tentu saja dalam konteks perilaku, sebagaimana halnya reinkarnasi lebih kepada perilaku yang merasuk dalam wujud baru di generasi yang berbeda.  Ada hal yang menarik ketika ulasan itu menyoroti organisasi demokrasi dan HAM yang ditengarai ikut membela atau setidaknya memberi komentar dalam kasus itu yang secara tidak langsung menguntungkan posisi pelaku. Sehingga penegakan qanun syari’ah menjadi dilematis ketika disandingkan dengan produk hukum universal yang memberi batasan tertentu pada hak-hak dasar manusia.  Pembelaan oleh organisasi demokrasi dan HAM terhadap kasus PE dala...