Langsung ke konten utama

Postingan

Hak Asasi Lembu

  Dalam rangka mempercepat peningkatan populasi sapi dalam negeri, Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan melakukan kerja sama dengan Australia untuk mengimpor sapi indukan dari negeri kangguru. Pengadaan sapi indukan ini kemudian didistribusikan ke beberapa provinsi termasuk Aceh. Pengadaan dilakukan Unit Pelaksana Teknis Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Sumbawa yang dilakukan secara bertahap. Lalu disalurkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) agar kebijakan penambahan indukan berjalan dengan baik untuk mempercepat peningkatan populasi sapi di dalam negeri, sebagaimana dijelaskan Dirjen PKH, I Ketut Diarmita yang dimuat  okezone.co m [12/18]. Dalam sebuah laporan resmi yang dikeluarkan Pemerintah Australia, sampai Mei 2019 Australia telah melakukan 81 kiriman ternak yang diekspor ke Indonesia melalui jalur laut. Indonesia merupakan pasar terbesar untuk ternak sapi dan kerbau. Setidaknya 243.602 sapi dan 936 ...

Trans Continent Menampar Citra Pemerintah Aceh yang “Mengkilap”

  Seminggu terakhir saya rajin mengikuti paparan inspiratif di sebuah akun media sosial. Memompa semangat  entrepreneur  dan mencoba membuka wawasan bagi generasi dan sarjana usia muda untuk melihat prospek sumber daya alam lokal yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk membangkitkan kesejahteraan ekonomi. Murthalamuddin, seorang birokrat yang saat ini lebih fokus ke dunia bisnis. Dia menawarkan banyak konsep yang secara sederhana dapat dilakukan oleh siapa saja yang mempunyai keinginan untuk mengembangkan diri secara ekonomi. Sosok ini ikut menyarankan langkah-langkah antisipatif sebagai  exit strategy  bagi Pemerintah Aceh dalam rangka menghadapi berakhirnya dana Otonomi Khusus Aceh. Ketertarikan saya karena dia sejatinya  people in  yang pernah bergelut dengan kebijakan tingkat Provinsi Aceh. Beberapa dinamika dan fakta di lingkaran kekuasaan yang tidak terungkap sebelumnya menjadi argumen penguat bagi analisanya. Terlepas dari wacana ia sedang...

Covid -19, dari Corona Semoga Tidak Menjadi Corporation of Vandalism

  Hampir semua orang saat ini dihadapkan pada realitas global yang mengkhawatirkan. Jadi kita harus melucu sebisanya. Berjenaka ria di antara melakukan tindakan atau kegiatan positif di tengah badai Covid-19. Benar, ada luang di tengah ancaman dan kelonggaran-kelonggaran di ruang proteksi pencegahan. Berangkat dari kebijakan skala nasional, kita coba melihat ke Aceh. Anak-anak yang sekolahnya terpaksa diliburkan, lalu muncul istilah belajar dari rumah yang sebelumnya belum pernah dipraktekkan bahkan tidak didiskusikan sama sekali saat kondisi normal. Tidak ada mekanisme atau juknis memadai yang mampu menjamin anak-anak tetap dalam pembelajaran ala sekolah saat belajar dari rumah. Akibatnya, dari total jam belajar di hari normal, mungkin hanya 20% yang mampu diserap anak-anak untuk belajar. Sisanya kegiatan suka-suka. Ketika sekolah diliburkan, para guru tidak mungkin ke sekolah untuk mengajar, selain guru juga termasuk dalam objek kebijakan yang mengatur  social distancing . G...

Rocky, Bintang Muda dari Timur

  Seorang perempuan paruh baya menenteng  eumpang caroek , tas kecil yang terbuat dari sulaman daun ibôh berdiri persis di sebelah kanan tangga pintu depan pendopo. Ia bersahaja, menutup kepalanya dengan lilitan selendang batik yang juga membalut separuh badannya. Di belakangnya ada beberapa perempuan lain yang rata-rata sebaya dengannya. Ada sekira lima belas orang, sebagian mereka berjongkok di atas tanah, saling berbicara. Mereka reflek bangun ketika melihat orang yang mereka tunggu muncul dari pintu utama, penuh wibawa yang membuat mereka yakin inilah pemimpin mereka yang baru. Lelaki itu melihat sekilas ke arah mereka untuk sadar situasi, lalu melanjutkan sisa pembicaraan dengan tamunya sambil melepas mereka pamit. Perempuan pertama di dekat tangga dengan semangat menunggu pembicaraan itu selesai. Tak lama, ia memanggil Bapak kepada lelaki itu, beberapa detik usai ia melepas salaman pamit tamunya. Ia menoleh dengan ramah, menuruni anak tangga dan menghampiri perempuan-per...

Zulfan, Instruktur Tani Organik yang Bukan Lulusan Sarjana Pertanian

  Di seruputan terakhir racikan black americano, kami sepakat menuju lokasi demplot penaman padi dengan pola organik. Tidak sampai lima belas menit, kami sudah berada di bentangan luas persawahan kecamatan Madat, Aceh Timur. Di sudut utara, dekat sekolah terlihat tanaman padi di dua petak sawah sekira 800 meter persegi yang tumbuh dengan sempurna. Warna daunnya agak berbeda, lebih hijau dan sehat dibandingkan dengan tanaman di sampingnya. Usianya memasuki dua bulanan dan mulai muncul putik  (spikelet) . Menjelang panen nanti yang warnanya akan lebih kuning dari biasanya, mungkin kuning keemasan, kata Zulfan yang berdiri di sebelah saya. Zulfan biasa dipanggil Pak Tani, ia pelopor penanaman padi dengan pola organik di lokasi itu. Konsepnya sangat sederhana dan tidak mengikuti sebuah panduan apapun, kecuali panduan ia sendiri dengan cara kerja yang ia praktekkan sendiri. Sawah tempat berkreasi milik warga setempat dan Zulfan diminta bantu untuk memberikan pendampingan sampai pan...